Buku tentang Surabaya dengan judul Śūrabhaya ini mungkin masih kurang dari cukup dan bahwa masih ada hal hal lain yang belum tercakup di dalamnya. Setidaknya dari kemasan ini, kita bisa tau apa apa saja yang perlu ditambahkan dan diperbaiki.

Setidaknya buku ini menjadi pintu gerbang melihat kisah Surabaya, yang bermula dari sebuah desa kecil di pinggiran sungai (Naditira Pradesa Śūrabhaya) menjadi Kota Besar Metropolitan Surabaya yang menaungi sungai Kalimas.

Tidak hanya cakupan fisik saja tapi juga cakupan non-fisik, yang bisa membuat kita jauh lebih bijak dalam memandang Surabaya sebagai entitas kota secara wholistik. Surabaya tidak berjalan mundur tapi harus maju dengan segala tantangan dan perubahannya. Bukan tidak mungkin perubahan perubahan yang terjadi akan bisa membuat kita lupa diri. Lupa diri menjadikan kita kehilangan jati diri.

Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia harus terus melaju pesat. Di tengah derasnya modernisasi, industrialisasi, dan transformasi digital, tantangan terbesar warga Surabaya adalah menjaga akar budaya dan nilai-nilai lokal agar tidak tergerus arus zaman.

Kemajuan, yang dicapai kedepan, haruslah seimbang antara pembangunan fisik dan pembangunan karakter manusianya.

Tags: