Telah hadir kemasan baru dalam membingkai wajah Kota Lama Surabaya. Yaitu sebuah buku Sketsa Kota Lama Surabaya, yang isinya tidak hanya menampilkan khazanah arsitektur bangunan kolonial, tetapi geliat sosial-budaya yang dinamis di ruang ruang di antara bangunan bangunan fisik kolonial.

Geliat sosial-budaya ini bersifat non benda (intangible), yang sesungguhnya masih hidup di kawasan cagar budaya meski dalam wujud transformasi sosial dan budaya lainnya. Namun itu adalah Surabaya.

Buku Sketsa Kota Lama Surabaya ini secara linguistik dan literatif mengetengahkan dua macam aksara (Aksara Jawa dan Latin) serta tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Belanda). Secara kultural, kawasan zona Eropa ini, sebelum bangsa Eropa masuk di abad 17, adalah rumah bagi etnis pribumi Jawa dan Madura, dimana bahasa lisannya adalah Jawa bagi etnis Jawa dan bahasa Madura bagi etnis Madura. Namun kedua etnis ini menggunakan bahasa tulis, yang berupa Aksara Jawa (Carakan).

Ketika bangsa Eropa masuk, maka hadirlah bahasa Belanda dan tentu saja bahasa lainnya. Diantaranya adalah Bahasa Inggris dan berkembangnya bahasa Melayu. Sehingga dari segi linguistik, hadir beragam bahasa: Indonesia, Inggris dan Belanda.

Keragaman Aksara dan Bahasa ini menjadi pengantar dalam narasi buku ini. Buku ini menampilkan sketsa sudut sudut Kota Lama Surabaya sebagai visualisasi wajah kota lama Surabaya sekarang, yang tidak hanya menampilkan kebendaan (tangible) tetapi juga non benda (intangible).

Tags: intigrafika,